Minggu, 27 Mei 2012

HARLEY-DAVIDSON

With power comes freedom. With freedom comes anything. Introducing the new Harley-Davidson® 2012 motorcycles.
Check it out at Harley-Davidson® 2012 Motorcycles

Selasa, 22 Mei 2012

Wisanggeni


( Wisanggeni dalam bentuk wayang kulit gaya Surakarta ) 
Bambang Wisanggeni adalah nama seorang tokoh pewayangan yang tidak terdapat dalam wiracarita Mahabharata, karena merupakan tokoh asli ciptaan pujangga Jawa. Ia dikenal sebagai putra Arjuna yang lahir dari seorang bidadari bernama Batari Dresanala, putri Batara Brama. Wisanggeni merupakan tokoh istimewa dalam pewayangan Jawa. Ia dikenal pemberani, tegas dalam bersikap, serta memiliki kesaktian luar biasa.

Kelahiran

Kisah kelahiran Wisanggeni diawali dengan kecemburuan Dewasrani, putra Batari Durga terhadap Arjuna yang telah menikahi Batari Dresanala. Dewasrani merengek kepada ibunya supaya memisahkan perkawinan mereka. Durga pun menghadap kepada suaminya, yaitu Batara Guru, raja para dewa.
Atas desakan Durga, Batara Guru pun memerintahkan agar Batara Brama menceraikan Arjuna dan Dresanala. Keputusan ini ditentang oleh Batara Narada selaku penasihat Batara Guru. Ia pun mengundurkan diri dan memilih membela Arjuna.
Brama yang telah kembali ke kahyangannya segera menyuruh Arjuna pulang ke alam dunia dengan alasan Dresanala hendak dijadikan Batara Guru sebagai penari di kahyangan utama. Arjuna pun menurut tanpa curiga. Setelah Arjuna pergi, Brama pun menghajar Dresanala untuk mengeluarkan janin yang dikandungnya secara paksa.
Dresanala pun melahirkan sebelum waktunya. Durga dan Dewasrani datang menjemputnya, sementara Brama membuang cucunya sendiri yang baru lahir itu ke dalam kawah Candradimuka, di Gunung Jamurdipa.
Narada diam-diam mengawasi semua kejadian tersebut. Ia pun membantu bayi Dresanala tersebut keluar dari kawah. Secara ajaib, bayi itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda. Narada memberinya nama Wisanggeni, yang bermakna "racun api". Hal ini dikarenakan ia lahir akibat kemarahan Brama, sang dewa penguasa api. Selain itu, api kawah Candradimuka bukannya membunuh justru menghidupkan Wisanggeni.
Atas petunjuk Narada, Wisanggeni pun membuat kekacauan di kahyangan. Tidak ada seorang pun yang mampu menangkap dan menaklukkannya, karena ia berada dalam perlindungan Sanghyang Wenang, leluhur Batara Guru. Batara Guru dan Batara Brama akhirnya bertobat dan mengaku salah. Narada akhirnya bersedia kembali bertugas di kahyangan.
Wisanggeni kemudian datang ke Kerajaan Amarta meminta kepada Arjuna supaya diakui sebagai anak. Semula Arjuna menolak karena tidak percaya begitu saja. Terjadi perang tanding di mana Wisanggeni dapat mengalahkan Arjuna dan para Pandawa lainnya.
Setelah Wisanggeni menceritakan kejadian yang sebenarnya, Arjuna pun berangkat menuju Kerajaan Tunggulmalaya, tempat tinggal Dewasrani. Melalui pertempuran seru, ia berhasil merebut Dresanala kembali.

Sifat dan Kesaktian

Secara fisik, Wisanggeni digambarkan sebagai pemuda yang terkesan angkuh. Namun hatinya baik dan suka menolong. Ia tidak tinggal di dunia bersama para Pandawa, melainkan berada di kahyangan Sanghyang Wenang, leluhur para dewa. Dalam hal berbicara, Wisanggeni tidak pernah menggunakan basa krama (bahasa Jawa halus) kepada siapa pun, kecuali kepada Sanghyang Wenang.
Kesaktian Wisanggeni dikisahkan melebihi putra-putra Pandawa lainnya, misalnya Antareja, Gatutkaca, ataupun Abimanyu. Sepupunya yang setara kesaktiannya hanya Antasena saja. Namun bedanya, Antasena bersifat polos dan lugu, sedangkan Wisanggeni cerdik dan penuh akal.

Kematian

Menjelang meletusnya perang Baratayuda, Wisanggeni dan Antasena naik ke Kahyangan Alang-alang Kumitir meminta restu kepada Sanghyang Wenang sebelum mereka bergabung di pihak Pandawa. Akan tetapi, Sanghyang Wenang telah meramalkan, pihak Pandawa justru akan mengalami kekalahan apabila Wisanggeni dan Antasena ikut bertempur.
Setelah melalui beberapa pertimbangan, akhirnya Wisanggeni dan Antasena memutuskan untuk tidak kembali ke perkemahan Pandawa. Keduanya rela menjadi tumbal demi kemenangan para Pandawa. Mereka pun mengheningkan cipta. Beberapa waktu kemudian keduanya pun mencapai moksa, musnah bersama jasad mereka.

Kamis, 10 Mei 2012

Senggono / Hanoman / Kapiworo / Mayangkoro

    Pada suatu saat hiduplah seorang Resi / petapa Guthomo yang  beristrikan Dewi windrati , mereka hidup berdampingan di Pertapaan Pancoran Manik , dari keluarga Resi Guthomo dan Windrati dikaruniai tigak orang anak , dua laki – laki dan satu anak perempuan , adapun anak tersebut bernam Guarso , Guarsi dan Anjani.
        Dari keluarga Resi Guthomo Dewi windrati yang kelihatan bahagia ternyata Dewi Windrati punya kekasih Bethara surya , sebagai bukti hubungan antara Dewi Windrati dengan Bethoro Surya , Dewi windrati punya pusaka yang bernama Cupu Manik Astogino , senjata tersebut hanya dimiliki oleh para Dewa , alkisah maka mengetahuilah Resi Guthomo akan kelakuan Istrinya , maka ketika dipertanyakan darimana mendapatkan Senjata Cupu Manik astogino tersebut Dewi Windrati diam seribu bahasa , lalu direbutlah Cupu Manik Astogino dari tangan dewi Windrati dan dibuanglah pusaka tersebut , sampai di sekitar kendalisodo  , dan dimarahinya Dewi Windrati dan diumpat oleh Resi Guthomo , akhirnya Dewi windrati jadi tugu dan dibuang sampai ke Negara Ngalengka diraja.
         Ketiga anak dari Resi Guthomo dan dewi Windrati tahu tentang keberadaan Pusaka Cupu Manik Astogino , lalu Guarso dan Guarsi pergi dan mencari dan dicarinya Pusaka tersebut dalam sebuah Sendang yang sekarang disebut sendang Penyangklingan , kedua anak laki laki Guarso dan guarsi masuklah ke dalam sendang tersebut dan begitu keluar keduanya berubah wujud menjadi kera , lalu keduanya tidak mengenal ssatu sama lain , kemudian terjadilah perkelaian tanding , karena kesaktian yang sama , pertarungan tersebut memakan waktu dua hari dua malam , setelah keduanya merasa leleh , baru saling bertanya dan keduanya saling menangis menyesali perbuatanya , dalam ujud kera tersebut guarso dan guarsi memohon kepada Dewata agung agar dikembalikan seperti ujud semula , dalam sebuah keputus asaan datang Dwa Nganglang jagat , tak lain adalah Semar Bodronoyo , lalu keduanya disarankan nagar melakukan Tapa Brata dan keduanya diberi nama Sugriwo dan subali.
          Anjani putri dari perkawinan Resi Gutomo dan Dewi Windrati juga berupaya untuk memiliki pusaka Cupu Manik Astogino yang pernah dimiliki Ibundanya , kemudian Anjani yang ditemani oleh emban suwareh juga ikut mencari dan masuklah Anjani dan Emban suwareh kedalam sendang Penyangklingan tersebut , tak lama kemudian keduanya keluar dari dalam sendang tersebut dan berujut kera , mengetahu kejadian tersebut menangislah keduanya sejadi jadinya …….. bahkan Anjani putus asa , dalam kepus asaan kedua gadis tersebut berniat bunuh diri kemudian  datanglah Dewa kang ngejowantah Semar Bodronoyo yang menyarankan agar Anjani dan Suwareh melakukan tapa brata.
         Kemudian Anjani dan Suwareh melakukan tapa brata agar ujud dirinya berubah seperti semula , dalam tapa brata yang dilakukan Anjani dan suwareh , membuat Jongring Saloka menjadi panas , lalu turunlah Bethara Guru dan Bethara Naradha , dalam perjalan Bethara Guru dan Naradha ngangklang jagad ada sinar yang memancar dari sebuah gundukan , lalu dihampirinya ternyata Anjani yang melakukan tapa brata , melihat kecantikan Anjani Bethara guru timbul sahwat sampai menjatuhkan Komo kurut , dan jatuhlah Komo kurut Bethoro Guru ke daun Sinom ( asem ) dan daun sinom yang kejatuhan komo kurutnya Bethoro Guru jatuh persis dipangkuan Anjani , sesuai dengan sumpah Anjani waktu melakukan tapa Brata tak akan makan dan minum jika tidak ada makanan dan minuman yang jatuh di pangkuanya , maka dimakanlah daun sinom tersebut.
        Tak lama setelah memakan daun sinom Anjani mengandung anak , tak lama kemudian lahirlah jabang bayi anak Anjani yang akhirnya diberi nama Senggono , batir ( ari – ari ) senggono adalah Butho Polosio dan butho polosio ini dicuri sama Dosomuko untuk dijadikan tumbal di negara Dasamuka Negara Ngalengka diraja.
        Senggono dimandikan di sendang cupu manik astogino , setelah dimandikan di sendang tersebut Senggono terjadi perubahan disamping pertumbuhan badanya juga senggono menjadi digdaya , ora tedas tapak paluning pande sisaning gurendro.
        Senggono menanyakan kepada Ibunya siapa bapaknya , dan senggono minta pamit dan berkelana , dalam perjalanan mengembara bertemulah senggono dengan pamanya Subali dan sugriwo , melihat keperwiraan Senggono maka , senggono diperkenalkan dengan Prabu Romo Wijoyo
Dalam perang Antoro , antara Prabu Romowijoyo dengan Dosomuko mengamuklah Senggono dan mencabut tugu , dibantinglah tugu tersebut dan badar jadi Dewi Windrati Eyang Putri dari senggono , Dewi windrati mengucapkan sukur pada cucunya lalu pamit untuk pulang kekayangan ke taman widodari , peperangan dimenangkan oleh prabu romowijoyo.
       Senggono / hanoman lalu mengikuti Prabu Dworowati ( Kresno ) dan oleh Prabu Dworowati Anoman diminta untuk menempati Gunung Kendalisodo untuk menjaga Angkara Murka.